Deret untuk Seseorang di Belakang

Sabtu, 08 Desember 2012

Hari ini aku ingin bercerita tentang kamu yang sedang sakit-sakitnya akan hati. Tentang sayatan yang terlihat kering dari luar, tak ubahnya badut yang memalsukan tawa. Tentang derap langkah namun tak bernyawa, menjaga agar pijakan tetap seimbang namun pikiranmu mengawang. 

Puisi ini, aku tak bisa meraibkan dari pikiranku.
1 hari ku..
Aku perlu 1 hari..
1 hari dimana kamu tak memenuhi pikiran ini
1 hari dimana aku bisa bermain hujan seorang diri
1 hari dimana senyumku tak bergantung pada bayangmu lagi
1 hari untuk kunikmati seperti sebelum aku bertemu kamu pertama kali
dan 1 hari saat dalam mimpipun kamu tak menghampiri
Kamu tau.?
Aku ingin memiliki 1 hari itu
Bukan aku lelah memperjuangkanmu
Mungkin karena aku mencintaimu dengan terlalu
Sedang kamu seolah tak mau tau

Ini tentangmu. Aku merindukanmu, tapi bukan berarti ingin kembali seperti dulu. Segalanya patah, jika cinta kita adalah pohon maka dengan mudah akan tumbuh setelah musim berganti. Namun cinta telah kita maknai sebagai prasasti yang sekali patah tak akan utuh bila disambung lagi.
Entah apa yang kini ada dalam pikiranmu, ada deretan huruf acak yang tidak dapat kamu baca.

K T I A 
B K U A N
S A I P A 
S A I P A

Deret huruf itu terus berputar dalam pikiranmu, kamu memilih bantal sebagai aspirin pada malam ini. Meredamkan kepalamu dalam-dalam kemudian menghamburkan tangisan hingga pelan-pelan kantuk membuatmu terpejam.
 

Dan saat aku ingin menoleh ke masa lalu. Seperti peti harta karun, ia terbuka dan memuntahkan berkeping-keping hal-hal yang pernah terlalui begitu saja. ia pekat dan mendarat dalam pikiran hingga terasa di dalam hati. Dari jutaan banyaknya kenangan, kenapa tentang dia yang selalu hadir?
Kenapa selalu tentang dia yang ingin diceritakan? Apakah waktu dan jarak tidak lagi usang menghilangkan jejak? Mengenangnya, seperti membunuh pelan-pelan. menyesakkan dan tidak tergambarkan. bagaimana bisa ia tidak pudar tenggelam dalam kebisuan? Nyatanya tidak pernah ada hal yang membuat waktu yang begitu lamanya menghapus jejaknya.
Sekarang sebaiknya bagaimana?
Ketika aku tengah berlayar menapaki kehidupan-kehidupan yang telah ku sketsa. Ketika aku tidak lagi berpergian sendiri. Ketika hati ku tidak yakin lagi bahwa perasaan ini sama seperti dulu. Mungkinkah aku hancurkan hanya untuk jalan yang belum terbentang?



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Poskan Komentar